Apa yang Kita Butuhkan dalam Hidup Ini?

Apa yang kita inginkan dalam hidup ini kadang tak selaras dengan kenyataan yang kita dapatkan. Tapi kadang kita tidak menyadari bahwa banyak dari hal-hal yang kita inginkan itu ternyata bukanlah yang kita butuhkan. Dalam banyak kesempatan mungkin kita terlalu fokus pada apa yang kita inginkan sehingga tidak mengukur terlebih dahulu, apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan kita.

Apa sih perbedaan antara keinginan dan kebutuhan? Tadi saya coba tengok blog seorang kawan (muhammadnoer dotcom), bunyinya begini;

Kebutuhan adalah fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan: makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan anak dan lain-lain.

Keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu hidup Anda akan tetapi Anda mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah, mobil baru dan mengkilat, dan seterusnya.

Sandal Greatvil

Baik, terlepas dari tepat tidaknya definisi di atas, saya hanya akan coba memfokuskan pada; apa sih sebenarnya kebutuhan yang mesti kita prioritaskan? Bagi saya sendiri, menurut apa yang saya pahami (tolong koreksi kalau salah ya), kebutuhan paling pokok yang harus diprioritaskan itu adalah sesuatu yang bisa mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta (taqarrub ilallah), yaitu apa-apa yang dengannya kita bisa menunaikan hak-Nya. Bukankah jika kita mendahulukan hak Allah maka Dia pun akan ‘membagikan hak kita’ berupa rezeki yang memang sudah Allah tetapkan sejak kita masih dalam rahim?

Nah, bagi yang skala prioritas ‘schedule’ kebutuhannya belum terorganisir dengan rapi, sebaiknya direset sehingga urutannya menjadi benar. Kebutuhan dalam hal ini tentu saja harus sesuai dengan ‘definisi kebutuhan’ versi Sang Pencipta. Ust. Yusuf Mansur bilang sih; Allah dulu, Allah lagi, Allah terus… Ok, semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kita kemudahan dalam meraih apa yang kita butuhkan dalam hidup ini.

by Hendrik Greatvil on Facebook, 11 February 2014