Bisnis Berbasis Amanah, Masih Adakah?

Salah satu bukti kebenaran Islam sebagai agama akhir zaman adalah agama ini memiliki kunci jawaban dari setiap persoalan yang dihadapi oleh manusia akhir zaman, tentu termasuk juga persoalan kita yang hidup di zaman ini.

Dalam dunia bisnis pun Islam mempunyai cara atau jawaban tersendiri yang berbeda dengan yang dilakukan oleh kaum Nasrani dan Yahudi. Amanah yang didasari keimanan pada Allah dan hari akhir, menjadi hal yang utama bagi seorang muslim –lebih utama dari sistem atau hukum yang lahir di luar hukum Islam.

Bagi yang masih lebih mengandalkan sistem (di luar sistem Islam), ketimbang amanah kepada saudaranya seiman, saya hanya ingin berbagi dengan Anda tentang hadis sahih panjang yang saya pandang sangat relevan dengan dunia bisnis dan investasi saat ini, setelah itu Anda sendiri yang memutuskan, mana yang lebih sesuai dengan hati kecil Anda.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman r.a., dia berkata: “Rasulullah SAW menceritakan kepada kami dua hadis. Sungguh aku telah melihat salah satunya dan aku menanti yang lain (sebab sekarang aku belum menjumpainya). Beliau bercerita kepada kami, bahwa amanat itu turun di hati beberapa laki-laki, lantas Al-Qur’an diturunkan, lalu mereka mengetahui (ilmu) dari Al-Qur’an dan Sunah Rasul.”

Kemudian beliau bercerita kepada kami tentang amanat yang akan diangkat, lalu beliau bersabda: “Seorang laki-laki tidur, lantas amanat diambil dari hatinya, lalu tinggal bekasnya seperti lepuh (di kulit). Ia laksana bara yang kamu gelincirkan di kakimu, lantas kulitnya melepuh. Kamu lihat bengkak (di kulit kakimu), kamu kira di dalamnya terdapat sesuatu, tapi hakikatnya tidak ada. Kemudian dia mengambil batu kecil lalu dilemparkan ke kakinya; lalu manusia berjual beli padanya, hampir saja tidak ada seseorang yang mampu menunaikan amanat, hingga dikatakan: sesungguhnya dalam bani Fulan (salah satu suku bangsa) terdapat laki-laki yang bisa dipercaya. Lantas banyak orang yang berkata: alangkah kuatnya, alangkah baiknya, alangkah cerdiknya, padahal sejatinya dalam lubuk hatinya tidak terdapat keimanan, sekalipun seberat biji sawi.”

Hudzaifah berkata: “Sungguh telah datang kepadaku suatu masa dan aku tidak peduli siapakah di antara kamu yang aku ajak jual beli. Bila dia seorang muslim, maka agamanya yang akan mengembalikan amanat kepadaku (bila dia membeli barangku dengan hutang, Maka kemantapan dia dalam beragama akan mengembalikan uang itu kepadaku). Bila dia seorang Nasrani atau Yahudi (lantas aku berjual beli padanya tidak tunai, lalu dia berkianat), maka petugas dari pemerintah yang akan mengembalikan (barangku atau hakku). Untuk sekarang aku tidak akan berjual beli, kecuali kepada Fulan dan Fulan (yaitu orang-orang yang menurutku kuat dalam memegang amanat).” [HR. Muttafaq Alaih].

Sandal Greatvil

Kita yang hidup di zaman sekarang dapat melihat apa yang disinyalir oleh hadits tersebut di atas; yaitu ketika kita menitipkan harta kita pada kaum Nasrani dan Yahudi, misalnya dalam bentuk tabungan di bank-bank yang dimiliki mereka, kemudian mereka berkhianat (seperti kasus BLBI 1997-1999), apa yang terjadi? Pemerintah yang menjaminnya bukan? Sepintas lalu ini baik karena uang Anda selamat; namun apakah ini baik untuk masyarakat keseluruhan? Ternyata tidak.

Kasus bailout oleh pemerintahan (entah Yahudi atau Nasrani) AS baru-baru ini terhadap beberapa lembaga keuangan yang gagal, telah menjadi bukti bahwa sistem penjaminan oleh pemerintah ini bukan-lah solusi yang baik karena hal-hal berikut:

1. Bailout oleh pemerintah lebih banyak menyelamatkan bankers/lenders yang tidak bertanggung jawab.

2. Memindahkan aset-aset beracun ke tangan pemerintah, yang ujung-ujungnya menjadi beban masyarakat secara luas.

3. Tidak mendidik masyarakat untuk berhati-hati dalam menitipkan kekayaannya.

Sayangnya, solusi bailout atau penjaminan oleh pemerintah yang di negeri asalnya pun banyak dikritik oleh rakyatnya, kini telah salah kaprah dianggap sesuatu yang paling benar dan ditiru oleh negara-negara lain.

Kalau saja dari umat mulai ada keberpihakan pada saudara-saudara kita yang seiman dan amanah, maka insya Allah akan tumbuh entrepreneur-entrepreneur yang kita merasa aman mempercayakan harta kita pada mereka –-karena agamanya yang akan menjaga amanat di hatinya.

Masih adakah amanat ini di hati saudara-saudara kita se-iman? Saya optimis insya Allah masih ada; bahkan insya Allah masih akan tumbuh bila ada keberpihakan kita, seperti keberpihakannya Hudzaifah dalam hadis tersebut di atas, yaitu bermualah dengan si Fulan dan si Fulan. Orang yang kuat memegang amanah, bukan si Fulan bin Fulan yang mengandalkan jaminan pemerintah. Wa Allahu A’lam.

Oleh: Muhaimin Iqbal

Penulis adalah Direktur GeraiDinar.com dan kolumnis www.hidayatullah.com

Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/8519/02/06/2009/bisnis-berbasis-amanah%2C-masih-adakah%3F-.html

—————-

Insya Allah kita akan dan sedang membangun bisnis yang amanah bersama-sama, dapatkan update infonya dengan mengikuti Netpreneurship Learning bersama Hendrik Greatvil ‘Sang Pemasar’. Bagi yang belum sempat mengikuti Kopdar Santri Netpreneur atau berkunjung ke Greatvil Hebat Center – Pesantren Netpreneur, tetap bisa berkonsultasi, berdiskusi atau mendapatkan informasi seputar program dan kegiatan di Grup WhatsApp, klik di sini atau di Grup FB BELAJAR & PRAKTEK NETPRENEURSHIP GRATIS – Hebat Marketing.