Papiss Cisse Saja Tolak Riba, Nah Kita?

PAPISS Cisse, salah seorang pemain Klub Liga Primer Inggris, rela dikenakan sanksi oleh klubnya Newcastle United demi memegang teguh keyakinannya terhadap salah satu ajaran Islam yaitu haramnya Riba. Sama seperti telah ditunjukkan oleh pesebakbola Frank Riberry dari klub Bayern Munchen dan Yaya Toure dari klub Mancester City yang menolak bersentuhan dengan bir (khamr) ketika selebrasi juara liga di negara masing-masing.

Riba adalah perkara yang jelas keharamannya sama seperti bir (khamr). Hukumnya pasti berdasarkan dalil yang qot’i pula baik dalam Alquran maupun hadits.

Namun justru di tengah-tengah kehidupan umat Islam saat ini, riba dan bir (khamr) begitu dekat dengan keseharian kita. Sampai-sampai banyak yang sudah bergeser keyakinannya terhadap keduanya, terutama riba.

Praktik membungakan uang sekarang bukan hanya dilakukan oleh bank-bank konvensional dan koperasi saja, tetapi sudah biasa dilakukan secara individual. Ketika ada teman atau keluarga membutuhkan uang, diberikan pinjaman dengan mengenakan bunga sekian persen. Terutama ketika uang tersebut diperlukan untuk modal usaha.

Urusan uang selalu disandarkan dengan keuntungan atau nilai lebih dimana patokannya adalah bunga bank. Gencarnya promosi bank-bank konvensional bahkan sampai memberi hadiah berupa ibadah umrah kepada nasabah atau menghajikan karyawannya memberikan kesan bank begitu ‘dekat’ dengan agama. Artinya bank tidak menakutkan lagi sebagai suatu lembaga yang sebenarnya haram karena riba. Apatah lagi ketika setoran ONH pun dititip ke bank.

Sandal Greatvil

Maka inilah yang saya maksud bergesernya keyakinan yaitu bank seolah-seolah sudah tidak bermasalah lagi dari sisi hukum Islam. Umat merasa enjoy saja, termasuk karyawan dan pengusahanya di bidang perbankan, atau koperasi dsb yang mempraktikan transaksi riba. Menghalalkan sesuatu yang haram, ketika hal itu menjadi suatu keyakinan, maka akan  dapat merusak syahadat seorang muslim. Bukan main-main!

Keberadaan bank-bank syariah yang dalam praktiknya belum sepenuhnya berjalan sesuai syariat Islam, masih berada di bawah manajemen bank-bank konvensional sebagai bank induk. Bank-bank syariah tersebut bersifat komplementer atau pelengkap yang tujuannya agar nasabah tidak lari menjadi nasabah bank syariah yang lain.

Biasanya plafond kredit bank syariah dibatasi sampai jumlah tertentu. Kemudian ketika nasabah membutuhkan plafond kredit di atas batas tertentu itu, maka nasabah dipersilahkan untuk mengajukan permohonan kredit kepada bank induknya yang artinya kembali ke konvensional.

Papiss Cisse ternyata sudah lebih jauh mengimplementasikan keislamannya daripada kita. Dia tegas menolak memakai kaos klub hanya karena di kaos itu tertera logo perusahaan riba! Nah, kita? []

Sumber: http://islampos.com/papiss-cisse-saja-tolak-riba-nah-kita-68387/